Rabu, 21 September 2016
MARI KITA AMBIL HIKMAHNYA DARI KISAH INI.!! MALAIKAT PENCABUT NYAWA MENANGIS SAAT CABUT NYAWA WANITA INI...
Malaikat Maut pernah menangis waktu mencabut nyawa seorang wanita. Kisahnya yang mengharukan tertulis dalam Tadzkirah oleh Imam Qurthubi.
“Aku pernah menangis saat mencabut nyawa seorang wanita, ” kata Malaikat Maut. “Saat itu ia barusan melahirkan di padang pasir. Saya menangis saat mencabut nyawanya karena mendengar bayi itu menangis serta tidak ada seorang ada juga disana. ”
Tidak ada sepengetahuan Malaikat Maut, karena ia hanya ditugaskan untuk mencabut nyawa, Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu menyelamatkan bayi itu dengan langkahnya hingga lalu ia tumbuh besar serta jadi seorang ulama yang dicintaiNya.
Dalam narasi yang lain dikisahkan cerita yang berbeda. Malaikat Maut ditugaskan mencabut nyawa seorang wanita yang terbenam di sungai. Yang membuatnya menangis, wanita itu mempunyai dua anak yang masih kecil. Ke-2 anak itu tak ditakdirkan wafat dunia hingga mereka selamat hingga ke tepian, bahkan Malaikat Maut ikut membantunya menepi.
Saksikan dua anak yang masih kecil itu, Malaikat Maut menangis karena ia harus mencabut nyawa ibunya. Mereka bakal jadi anak-anak sebatang kara.
Th. untuk th. berlalu, dua anak itu kemudian tumbuh dewasa. Serta dengan izin Allah, ke-2 anak itu keduanya sama jadi raja di dua daerah yang berbeda.
Kita tidak pernah tahu kapan Malaikat Maut bakal tiba mencabut nyawa. Satu yang tentu, akan tak ada yang dapat memajukan serta tunda kematian sesaatpun waktu Allah telah mengambil keputusan
waktunya.
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُم�’ لَا يَس�’تَأ�’خِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَس�’تَق�’دِمُونَ
Masing-masing
umat memiliki batas waktu ; jadi bila sudah datang waktunya mereka tak bisa mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak bisa (juga) memajukannya. (QS. Al A’raf : 34)
قُل�’ لَا أَم�’لِكُ لِنَف�’سِي ضَرًّا وَلَانَف�’عًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ إِذَا جَاءَ أَجَلُهُم�’ فَلَا يَس�’تَأ�’خِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَس�’تَق�’دِمُونَ
Katakanlah : “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tdk (juga) manfaat pada diriku, namun apa yang dikehendaki Allah”. Semasing umat memiliki ajal. Jika sudah datang ajal mereka, jadi mereka tidak bisa mengundurkannya barang sesaatpun dan tak (juga) mengutamakan (nya). (QS. Yunus : 49)
وَلَن�’ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَف�’سًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَع�’مَلُونَ
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Tahu apa yang anda lakukan. (QS. Al Munafiqun : 11)
Bahkan walaupun Malaikat Maut iba juga, hal semacam itu takkan menunda kematian yang sudah dijadwalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’la.
Namun, kita juga tidak bisa begitu takut dengan hari esok anak-anak dan keturunan kita. Mereka hidup, tumbuh dan besar tidaklah karena kita namun atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti cerita diatas, bahkan ditinggal oleh orangtuanya walaupun, Allah yang akan buat perlindungan mereka
Yang jadi perlu kita buat persiapan dan lebih kita cermati yaitu bekal kita hadapi kematian. Siapkah kita hadapi alam barzakh. Siapkah kita hadapi hari kebangkita. Siapkah kita hadapi yaumul hisab waktu semua amal kita di buka dihadapan semuanya makhluk. Sudahkah kita pikirkan, bila Malaikat Maut datang lewat langkah mendadak pada kita, dimana rumah kita nantinya ; surga atau neraka?
sumber : www. mediainformasiislam. net
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar